Informasi Sehat, Desa Kuat

Tanggal : 26 Dec 2020 18:00 WIB | Dibaca : 149 | Kategori : Berita

BANDUNG – Penggunaan teknologi informasi hari ini sudah bukan barang langka lagi. Dalam kehidupan manusia sehari-hari, sejak mulai bangun tidur hingga mau tidur lagi hampir tak terlepas dari yang namanya teknologi.

Merujuk pada hasil penelitian Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), bahwa penetrasi penggunaan internet antara di wilayah pedesaan dengan wilayah perkotaan hampir tak jauh beda. Dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 74,1% berada di perkotaan tergolong sebagai pengguna internet, sementara sebanyak 61,6% pengguna internet tinggal di pedesaan.

Melihat data tersebut, tentu saja warga desa saat ini memiliki peluang dan kemudahan dalam mengakses informasi secara cepat dan beragam. Namun dibalik kemudahan tersebut, tentu saja warga desa pun harus mampu memperlakukan derasnya aliran informasi saat ini dengan baik dan bijak, sehingga hakikat kemajuan teknologi dapat mendorong terhadap kesejahteraan masyarakat desa sebagai warga Negara.

Pada acara Ngopi Bareng Bersama Jabar Saber Hoaks pada Sabtu (26/12/20) ini, Jabar Saber Hoaks mengangkat topik “Informasi sehat, desa kuat”.

Diawal diskusi, Depi Agung Setiawan (Social Media and Fact Checker Jabar Saber Hoaks) menegaskan, bahwa kemajuan teknologi informasi tidak melulu membawa hal-hal yang positif. Hal ini tentu saja perlu tanggungjawab bersama agar kemajuan teknologi informasi saat ini kiranya dapat memberikan kemaslahatan bagi kelangsungan kehidupan manusia.

“Perlu tanggungjawab bersama agar kemajuan teknologi informasi dapat memberikan kemaslahatan bagi kelangsungan hidup manusia,” tegasnya.

Sementara Sandi Ibrahim (Admin Jabar Saber Hoaks) yang didaulat sebagai narasumber mengatakan, bahwa desa memiliki peluang untuk mengembangkan potensinya di tengah kemajuan teknologi informasi.

“Desa memiliki peluang untuk mengembangkan potensinya di tengah kemajuan teknologi informasi,” ungkapnya.

Bahwa masyarakat desa hari ini, lanjut Sandi, selain sudah adaptif dengan perkembangan teknologi informasi seperti penggunaan gadget, pun secara demografis, wilayah Indonesia didominasi oleh hamparan populasi penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan.

Terkait dengan informasi sehat, Sandi mengatakan bahwa kunci pertama yang harus dilakukan oleh masyarakat informatif saat ini yakni dengan selalu bersikap kritis terhadap aliran informasi yang diterima alias critical thinking. Dengan perilaku critical thinking pengguna media sosial akan mampu mencerna dan memilah mana informasi yang sesuai fakta mana informasi yang keliru atau hoaks.

“Dengan perilaku critical thinking pengguna media sosial akan mampu mencerna dan memilah mana informasi yang sesuai fakta, mana informasi yang keliru atau hoaks,” tutur Sandi.

Sementara, dalam rangka mendorong pelibatan masyarakat desa untuk turut serta dalam meminimalisir penyebaran kabar keliru atau hoaks, Jabar Saber Hoaks tengah menggagas beberapa rancangan program unggulan diantaranya “Program Desa Anti Hoaks”. 

Untuk mewujudkan masyarakat desa yang maju dan mandiri, maka pengelolaan informasi menjadi salah satu faktor kuncinya. Dalam konteks semangat keterbukaan informasi sebagai salah satu pemantik terhadap akselerasi pembangunan wilayah, pengelolaan informasi yang sehat tentunya akan mendorong terciptanya potensi-potensi lokal, seperti potensi ekonomi produktif, pariwisata yang ada didesa untuk dikembangkan guna tercapainya kesejateraan warga desa. 

Secara umum, desa sejahtera mandiri memiliki ciri, diantaranya: kemampuan mengurus dirinya sendiri dengan potensi yang dimiliki, pemerintah desa memiliki kewenangan dalam mengatur dan mengelola pembangunan, sistem pemerintahan desa menjunjung tinggi aspirasi dan partisipasi warga, dan sumber daya pembangunan desa dikelola secara transparan dan akuntabel untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan sosial seluruh warganya. (Depi Agung Setiawan/JSH).

Penulis : Depi Agung Setiawan/JSH

Komentar


Post Terkait