Antara Netizen, Komunitas dan Jabar Saber Hoaks

Tanggal : 07 Nov 2020 17:20 WIB | Dibaca : 125 | Kategori : Berita

BANDUNG – Budaya yang kini sangat kentara adalah netizen yang cenderung bebas menghuni dan berekspresi di media sosial tanpa syarat dan ketentuan. Maka tak pelak jika ruang media sosial hari ini dihuni oleh warganet yang lemah analisis, lemah kecerdasan intelegensi, lemah kecerdasan emosional yang sangat jauh dari sikap dan karakter ilmiah.

Pada acara Ngopi Bareng Bersama Jabar Saber Hoaks yang dikemas dalam program Forum Publik TVRI Jawa Barat, Sabtu (7/11/20), Jabar Saber Hoaks mengangkat tema “Antara netizen, komunitas dan jabar saber hoaks”.

Dipandu oleh host Rendy Hendika Wiguna (Content Strategist Jabar Saber Hoaks), diskusi diawali dengan pemaparan seputar eksistensi netizen di ruang media sosial. Menurut Rendy, netizen (pengguna medsos) merupakan bagian yang melekat dalam aktivitas media sosial.

Merujuk pada data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lanjut Rendy, bahwa Jawa Barat menjadi provinsi dengan pengguna internet terbesar di Indonesia. Di tahun 2018, total pengguna internet Indonesia tercatat 171,17 juta jiwa atau setara dengan 16 persen.

“Jawa Barat merupakan provinsi dengan pengguna internet terbesar di Indonesia. Tahun 2018, total pengguna internet Indonesia tercatat 171,17 juta jiwa atau setara dengan 16 persen,” paparnya.

Sementara itu, Retha Aquila Rahadian (Koordinator Jabar Saber Hoaks) menyampaikan bahwa memperlakukan media sosial kiranya harus cerdas dan berhati-hati. Ia menegaskan bahwa media sosial adalah ruang publik dimana setiap perilaku yang kita unggah di akun-akun kita akan terkonsumsi langsung oleh khalayak atau pengguna media sosial lainnya.

“Media sosial adalah ruang public, dimana setiap perilaku yang kita unggah di akun-akun kita akan terkonsumsi langsung oleh khalayak atau pengguna media sosial lainnya,”jelasnya.

Lebih lanjut Retha mengajak seluruh netizen agar lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial. Jabar Saber Hoaks berharap para netizen bisa lebih kebal terhadap setiap informasi yang diterima. Sejak tahun 2020, Jabar Saber Hoaks telah meluncurkan beberapa program edukasi dalam bentuk literasi digital, seperti program “Saber Info” yang berisikan seputar perkembangan isu hoaks yang ditangani oleh Jabar Saber Haoks. 

Program literasi lainnya adalah “Saber Budaya” salah satu program yang mengupas seputar tema budaya sunda yang dikaitkan dengan literasi digital.

Selain konsen di sisi literasi dan klarifikasi, Jabar Saber Hoaks pun melakukan pemetaan terhadap karakteristik perilaku netizen. Program yang digawangi oleh Bidang Data dan Litbang Jabar Saber Haoks ini bertujuan untuk menganalisa seberagam mana karakteristik para netizen, khususnya netizen yang aktif berpartisipasi di akun-akun Jabar Saber Haoks.

Di sisi lain, ada kecenderungan pergeseran fenomena penggunaan media sosial oleh masyarakat. Berdasarkan pengamatan Jabar Saber Hoaks, penggunaan akun Youtube oleh para pengguna internet akhir-akhir ini mengalami peningkatan jumlahnya. Hal ini selaras dengan data hasil penelitian APJII, dimana aktivitas tertinggi para pengguna media sosial Indonesia adalah menonton film sebagai hiburan. 

Di penghujung diskusi, Rendy mengingatkan para pemirsa TVRI dan netizen untuk selalu cerdas dan selalu mengecek setiap informasi yang diterima. Rendy pun menyampaikan kembali nama akun-akun.

resmi Jabar saber Hoaks yang bisa diakses oleh masyarakat untuk mengadukan dan memantau perkembangan seputar kabar keliru di dunia maya. Dunia maya akan semakin berfaedah manakala dihuni oleh “Good netizen”. 

Good netizen adalah sekelompok warga internet yang mampu mengolah, menggunakan dan membagi informasi secara profesional. Tidak mudah mengkonsumsi informasi yang tidak valid, hoaks apalagi mengandung ujaran kebencian. (JSH/Depi Agung Setiawan)

Penulis : JSH/Depi Agung Setiawan

Komentar


Post Terkait