Hoaks Mengancam Tatanan Demokrasi

Tanggal : 07 Nov 2020 15:00 WIB | Dibaca : 162 | Kategori : Berita

BANDUNG – Jelang Pemilihan Kepala Daerah Serentak yang jatuh pada tanggal 09 Desember 2020 sinyalemen aroma kontestasi dari masing-masing peserta Pilkada kian terasa menghangat dan menyeruak di sela aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat. Beragam kemasan jargon politik dari masing-masing kontestan pun turut meriuhkan aroma politik dalam kancah pesta demokrasi lima tahunan ini.

Di Jawa Barat, Kabupaten Bandung adalah salah satu wilayah yang melaksanakan pesta demokrasi dengan jumlah pemilih terbanyak diantara 8 delapan Kota/Kabupaten lainnya, yakni Cianjur, Sukabumi, Karawang, Indramayu, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Kota Depok.

Guna mengantisipasi meluasnya informsi keliru selama tahapan pilkada di Kabupaten Bandung, khususnya selama tahapan kampanye, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bandung berinisiasi untuk memberikan penguatan wawasan seputar digitalisasi informasi kepada personil Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) melalui kegiatan Bimbingan Teknis Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih dimasa Pandemi Covid-19 Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bandung Tahun 2020.

Dalam sambutannya, Isun Ahmad Sukmantara anggota Komisioner KPU Kabupaten Bandung mengatakan, dengan diterapkannya kebijakan pembatasan tatap muka sebagai dampak Covid-19 selama penyelenggaraan pilkada tahun 2020 ini maka perlu kiranya para penyelenggara di berbagai tingkatan harus bisa mewaspadai potensi beredarnya informasi-informasi yang keliru.

“Kebijakan pembatasan tatap muka selama penyelenggaraan pilkada tahun 2020 ini, para penyelenggara di berbagai tingkatan (KPPS, PPS, PPK) harus mewaspadai potensi beredarnya informasi-informasi keliru,” ujar Isun yang saat ini bertugas sebagai Divisi Perencanaan, Data dan Informasi.

Sementara itu, anggota Divisi Sosialisasi, SDM, dan Partisipasi Pemilih, Supriatna yang bertindak selaku moderator pada acara bimtek itu menegaskan, untuk memastikan kelancaran pelaksanaan pilkada tahun 2020 ini pihkanya telah melalukan berbagai upaya agar setiap informasi yang dirumuskan oleh penyelenggara dipastikan dapat tersampaikan dengan utuh kepada masyarakat.

Sementara itu, Depi Agung Setiawan dari Jabar Saber Hoaks yang menjadi salah satu narasumber dalam acara bimtek itu memaparkan, sebagai wilayah yang menjadi penetrasi tertinggi pengguna internet di Indonesia, masyarakat Jawa Barat kiranya dapat memanfaatkan sarana teknologi informasi saat ini untuk menyukseskan penyelenggaraan pilkada serentak tahun 2020 ini.

“Manfaatkanlah sarana teknologi informasi saat ini untuk menyukseskan penyelenggaraan pilkada serentak ini,” ucapnya.

Depi pun mewanti-wanti, selama masa pandemik Covid-19 agar kiranya seluruh penyelenggara pilkada serentak untuk selalu meliterasi diri dengan sikap kritis dan penuh kehatian-hatian dalam setiap menerima atau pun menyampaikan informasi yang berkaitan dengan tahapan pilkada.

Utuhnya setiap pesan dalam satu informasi terkait tahapan pilkada akan menjadi tolok ukur suksesnya penyelenggaraan Pilkada serentak.

Menurutnya, penyebaran kabar keliru atau hoaks selain akan mengganggu laju tahapan pilkada, hoaks pun merupakan satu ancaman serius dalam tatanan demokrasi hari ini.

“Penyebaran kabar keliru atau hoaks selama pilkada merupakan ancaman serius dala tatanan demokrasi,” tegasnya.

Acara bimtek yang digelar pada Sabtu 7 November 2020 bertempat di Sky Lounge Grand Sunshine Resort and Convention Soreang itu diikuti oleh anggota PPK dari 31 kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung yang meiliki jumlah penduduk diatas 3 juta jiwa.

Sementara peserta pilkada Kabupaten Bandung tahun 2020 ini, diikuti oleh tiga pasangan calon, yaitu paslon Dadang Supriatna - Syahrul Gunawan yang diusung oleh Partai PKB, Nasdem, Demokrat dan PKS. Kemudian paslon Yena Iskandar Masoem - Atep yang diusung oleh Partai PDIP dan PAN, serta paslon Kurnia Agustina - Usman Sayogi yang diusung oleh Partai Partai Golkar dan Gerindra. (Penulis : JSH/Depi Agung Setiawan)

Penulis : JSH/Depi Agung Setiawan

Komentar


Post Terkait